Suntikan obat-obat neurolitik (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Suntikan obat-obat neurolitik (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Suntikan obat-obat neurolitik (Prof. Dr. Joh Spierdijk) - Menurut Metha (1973) penggunaan fenol 5% dalam gliserin adalah obat standard untuk penanggulangan nyeri pada penderita kanker. Selama belum ada anestetikum lokal dengan daya kerja beberapa minggu, harus digunakan obat-obat destruktif untuk memutus penghantaran di dalam sistem aferen.

Obat ini disebut obat-obat neurolitik. Di samping fenol dalam gliserin, dalam air atau dalam 'myodil' sehingga obat tersebut dapat dilihat secara fluoroskopik, digunakan juga khlorokresol 3-5% dalam pelarut serupa atau dalam alkohol absolut atau 50%.

Dengan penggunaan obat-obat ini dapat dicapai penghentian nyeri secara drastis. Injeksi intratekal kebanyakan dilakukan pada daerah torakal, lumbal dan sakral. Untuk daerah servikal tekniknya amat sukar, maka digunakan suntikan ke dalam rongga epidural.

Sebagian penulis menyukai suntikan epidural di semua tingkat. Dengan dosis yang tepat dan secara teliti menempatkan penderita dalam posisi yang tepat pula, dapat dicapai maksud menghambat syaraf sensibel tanpa mempengaruhi fungsi serabut motorik. Ini terutama penting untuk mempertahankan fungsi kandung kencing dan rektum.

Suatu variasi penggunaan zat neurolitik yang diberikan peridural adalah dengan memasukkan sebuah kateter di dalam rongga epidural, dan melalui kateter itu dimasukkan anestetikum lokal yang memiliki daya kerja lama. Keuntungan metode ini ialah, bahwa komplikasi motorik hanya berlangsung untuk sementara waktu, sedang kerugiannya ialah diperlukan suntikan 2 a 3 kali sehari.

Ketakutan sementara dokter untuk menyuntikkan fenol atau alkohol intratekal yang penuh resiko ini, menyebabkan timbulnya beberapa variasi teknik pelaksanaannya. Misalnya dianjurkan suntikan intratekal larutan garam hipertonik (NaCI 8-15%) baik pada suhu tubuh maupun sesudah didinginkan pada 4.

Dengan cara ini maka serabut-serabut C yang menghantarkan impuls nyeri secara selektif akan dihentikan fungsinya. Tetapi data-data mengenai hal ini belum begitu banyak. Penghentian nyeri kadang-kadang berlangsung lebih dari 3 bulan.

Metode lain yang sekarang sedang dikembangkan adalah ''barbotage'' cairan serebrospinal; 20 cc cairan lumbal diisap dan disuntikan lagi setinggi L111 dan L1v. Ini dikerjakan 15 a 20 kali dalam satu tindakan. Dengan cara ini dianggap dapat terjadi demielinisasi serabut-serabut syaraf. Hasilnya berkisar antara nihil sampai baik. Kadang-kadang didapat hilangnya rasa nyeri sampai lebih dari 6 bulan.

Akhirnya disebutkan hasil baik yang didapat dengan blokade ganglion coeliacum dan penghentian fungsi hipofisa. Untuk kanker di dalam perut bagian atas, khususnya pada karsinoma pankreas, didapat hasil-hasil yang amat baik dengan blokade ganglion coeliacum ini.

Kalau blokade ini belum dikerjakan pada waktu operasi, maka dapat dilakukan kemudian dengan bantuan fluoroskopi. Caranya dengan menyuntikkan 25 cc alkohol 50%, sesudah tempat itu diinfiltrasi dengan suatu anestetikum lokal.

Mengenai penghentian fungsi hipofisa secara kimiawi (terutama di Italia) telah dilaporkan hasil-hasil yang baik, bukan hanya terhadap tumor-tumor yang hormonal sensitif, melainkan pada semua bentuk tumor. Untuk ini digunakan alkohol 1 sampai 2 cc. Suntikan dilangsungkan dengan fluoroskopi dan dapat dilakukan transnasal.
Pemberian psikofarmaka (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Pemberian psikofarmaka (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Pemberian psikofarmaka (Prof. Dr. Joh Spierdijk) - Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, rasa nyeri dan ketakutan timbul bersama-sama. Menghilangkan ketakutan atau kekhawatiran terutama adalah tugas orang-orang di sekitar penderita. Psikofarmaka kadang-kadang memberi bantuan positif.

Tetapi beberapa psikofarmaka memiliki kerja ikutan menimbulkan ''depresi'' sehingga obat tadi justru berakibat lebih buruk. Untuk menghilangkan rasa takut dan ketegangan dapat digunakan preparat-preparat benzodiazepin.

Diazepam (Valium R) 3-4 dd 2-5 mg per os atau medazepam (Nobrium R) 3-4 dd 5 mg cukup efektif. Di samping itu obat-obat ini juga memiliki daya analgetik ringan. Daya analgetik ini tidak terdapat pada Librium R.

Derivat-derivat fenothiazin dikenal dengan kemungkinan efek depresifnya. Meskipun demikian beberapa derivatnya memiliki daya suportif yang kuat. Levopromazine (Nozinan R) 2 dd 12.5-25 mg juga memiliki daya analgetik.

Obat ini dapat menyebabkan depresi pernapasan. Dalam keadaan depresi dapat diberikan antidepresan trisiklik, misalnya amibriptilin (Tryptizol R) 3 dd 25 mg, atau Tofranil R 2-3 dd 25-20 mg dengan hasil yang baik.
Sudah barang tentu penderita harus cukup tidur. Kerapkali kombinasi analgetikum yang baik dan pilihan obat psikotropik yang tepat sudah mencukupi. Psikofarmaka dapat diberikan dalam dosis lebih tinggi pada waktu malam. Kalau perlu dapat ditambahkan obat tidur.
Penanggulangan nyeri kanker (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Penanggulangan nyeri kanker (Prof. Dr. Joh Spierdijk)

Penanggulangan nyeri kanker (Prof. Dr. Joh Spierdijk) - Dalam ikhtisar ini penulis akan membatasi diri pada aspek-aspek penanggulangan nyeri yang penting untuk penderita onkologik. Berbeda dengan penyakit lain, nyeri pada penderita onkologik umumnya memiliki sebab yang jelas. Tetapi di sini tidak dapat ditarik garis hubungan antara besar stimulus dengan keluhan nyerinya. Nyeri selain dipengaruhi oleh penyakit itu sendiri, juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain.

Faktor-faktor ini terutama terletak dalam segi efektif dan emosional, seperti :

  • Kecemasan : cemas akan diagnosanya, cemas akan efektivitas terapi, cemas tentang masa depan sendiri ataupun keluarganya dan cemas akan penderitaannya yang akan dipikul kemudian.
  • Pengalaman : pengalaman menderita nyeri, yang dahulu memerlukan terapi bedah atau radiasi untuk menyembuhkannya.
  • Reaksi orang-orang di sekitarnya : bagaimanakah reaksi lingkungannya, apa yang ingin mereka ketahui mengenai pengalaman penderita, takutlah mereka mendapat penyakit yang sama, adakah lingkungannya terlampau khawatir atau terlalu riang.
  • Kepribadian : kepribadian penderita memegang peranan besar dalam memahami nyerinya dan cara penderita bereaksi terhadap nyeri tersebut.

Kita harus memperhatikan semua faktor di atas kalau kita akan menanggulangi nyerinya. Penderita tidak akan tertolong dengan melawan nyerinya saja, mereka membutuhkan teman yang bersedia menampung keluhan nyerinya.

Dalam bab ini akan dibicarakan beberapa metode menanggulangi nyeri secara efektif dengan cara membantu, menunjukkan jalan atau melaksanakan suatu teknik. Tetapi pelayanan penderita harus dilaksanakanoleh dokter yang merawat, bekerja sama dengan anggota keluarga, teman penderita atau badan-badan yang khusus didirikan untuk keperluan itu.

Di banyak rumah sakit telah didirikan ''Pain Clinics'' kelompok-kelompok penanggulang nyeri, ''Pain teams''. Dalam kelompok-kelompok ini duduk ahli onkologi, ahli farmakologi klinik, ahli bedah syaraf, ahli neurologi, ahli onkologi, ahli psikologi, psikiater, ahli radioterapi dan lain-lain dokter yang menaruh perhatian pada penanggulangan nyeri.

Pembicaraan kelompok yang diadakan secara teratur kerap kali juga dihadiri oleh wakil-wakil dari sektor masyarakat, perawat-perawat, rokhaniawan dan ahli-ahli fisioterapi. Tujuan kelompok ini adalah mencapai terapi dan pelayanan penderita nyeri secara rasional. Nyeri menyebabkan disintegrasi total pada individu. Karena itu nyeri harus ditanggulangi dengan gigih, namun pada keadaan yang berat komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul harus diterima juga.

Dalam usaha penanggulangan nyeri penderita onkologik ini sasaran kita adalah penderita yang telah ditegakkan diagnosanya dan telah direncanakan terapi kausal, atau yang terapi kausal sudah tidak mungkin lagi diberikan. Dalam bab-bab terdahulu telah dibicarakan berbagai kemungkinan terapi.

Ilmu Bedah, khemoterapi, terapi hormonal dan radioterapi, yang walaupun dipakai paliatif, memegang peranan penting pada penanggulangan nyeri. Paliasi yang terarah harus mendahului teknik-teknik penanggulangan nyeri yang digunakan secara umum atau secara lokal.

Kalau ditemukan tumor metastasis atau tumor residif, perlu dilakukan konsultasi lagi dengan pusat onkologi yang sebelumnya merawat penderita. Demikian pula kalau seorang penderita kanker mengeluh nyeri tanpa dapat ditujukkan residif atau metastasis yang jelas. Barangkali dengan menggunakan metode diagnostik yang lebih teliti dapat diberikan terapi yang terarah kepada tumornya.

Kecuali pada stadium terminal, penderita tetap harus memiliki tempat yang adekwat di dalam masyarakat atau lingkungannya; ''menempatkan penderita di bawah obat-obatan'' hanyalah sebagai jalan terakhir. Dalam banyak hal masih mungkin digunakan jalan lain daripada farmakoterapi untuk membebaskan penderita dari nyerinya.

Harus disadari bahwa problematik di belakang keluhan nyeri kerapkali secara hebat datang menyerang penderita. Problema ''nyeri'' sehari-hari berubah menjadi problema apakah yang menjadi sebab nyeri itu. Karena itu dalam usaha pemberantasan nyeri onkologik, pembebasan dari rasa takut ikut memegang peranan yang penting. Ini dapat dilakukan dengan pemberian perhatian yang terus-menerus bukan pada saat dokter kebetulan memiliki waktu saja. Untuk dokter yang sangat sibuk hal ini memang sukar.

Di samping pemberian analgetik dan anxiolitika kalau diperlukan dalam perawatan penderita kanker perlu diperhatikan agar penderita selalu berada dalam keadaan senyaman mungkin dan jangan ia terlalu dikekang oleh berbagai aturan atau larangan yang tidak-tidak.

Kekurangwaspadaan, kurang pengertian atau keinginan memberikan aturan-aturan hidup tertentu kadang-kadang mendorong dokter memberikan berbagai terapi larangan yang amat aneh kepada penderita kanker dengan keluhan nyeri. Rasa ngantuk pada penggunaan analgetika dapat dilawan dengan pemberian secangkir kopi kental.

Terhadap kegelisahan (di negeri barat) petang hari diberikan segelas anggur untuk memperkuat efek terapi. Meskipun kita berpendapat bahwa merokok harus dilarang keras, namun larangan tersebut bagi penderita kanker ini bukan pada tempatnya.

Perawatan penderita kanker semakin lama semakin sukar tergantung dari kelanjutan penyakitnya. Tindakan-tindakan harus diambil tepat pada waktunya, agar kesulitan penderita dapat ditekan serendah mungkin.

Untuk mengakhiri pendahuluan ini, secara ringkas akan diuraikan mengenai kortikosteroid. Terapi hormonal spesifik terhadap kanker tidak akan dibicarakan di sini. Pemberian kortikosteroid memegang peranan penting dalam terapi simptomatik kanker.

Kortikosteroid mempunyai pengaruh yang tidak spesifik terhadap perasaan penderita dan terhadap kekurangan nafsu makan. Di samping itu hormon ini dapat mengurangi atau menghilangkan oedema otak yang kadang-kadang terdapat pada tumor primer otak dan metastasis otak.

Menurut Twycross (1973) pada 10 sampai 20% penderita kanker terjadi diperkalsemia. Pada penderita kanker paru dan payu*dara prosentasi ini terdapat lebih tinggi. Hiperkalsemia ini bisa menimbulkan rasa tidak enak di seluruh badan, rasa nyeri difus, nause, vomitus dan kelelahan.
Pemberian hidrokortison 1-3 kali 20 mg sehari atau prednisolon 1-3 kali 5 mg sehari atau lebih memberikan hasil baik. Efek subyektif yang sama baiknya disebutkan juga pada pemberantasan nyeri akibat metastasis hepar yang luas. Berhubung dengan bertambahnya kemungkinan ulkus vertrikuli pada terapi kortikosteroid maka kombinasi kortikosteroid dengan acetosal tidaklah dianjurkan.
Paliasi dengan radioterapi (Prof. Dr. A. Zwaveling)

Paliasi dengan radioterapi (Prof. Dr. A. Zwaveling)

Paliasi dengan radioterapi (Prof. Dr. A. Zwaveling) - Radioterapi dapat memberikan bantuan besar dalam paliasi terutama pada proses-proses lokal yang memberikan keluhan-keluhan atau yang diharapkan akan memberi komplikasi-komplikasi seperti pada lesi-lesi lintang yang membakat atau pada metastasis-metastasis di collum femoris.

Selain itu amatlah penting, bahwa pertumbuhan tumor lokal atau metastatik untuk sementara dapat dihambat. Karena itu dalam banyak kasus yang disebut di bawah ini radioterapi dapat memegang peranan penting dan kerapkali menyebabkan tidak diperlukannya lagi tindakan bedah, misalnya pada tumor-tumor esofagus dan rektum. Itulah sebabnya juga perlunya diadakan pembicaraan bersama.

Dalam beberapa hal effek radioterapi dapat ditingkatkan dengan bersama-sama memberikan juga obat khemoterapi kanker. Pada massa-massa tumor yang besar reduksi pendahulu oleh ahli bedah juga dapat meningkatkan effek radioterapi, yang juga berlaku untuk khemoterapi.

Dapat dilakukan kombinasi dengan obat khemoterapi kanker yang diberikan intraarterial (a.l. pada karsinoma parotis). Biasanya berbagai bentuk terapi dalam hal ini tidak diberikan pada waktu yang bersamaan, melainkan secara berturut-turut.
Dalam hampir semua hal yang memerlukan paliasi harus diadakan pembicaraan dengan ahli radioterapi; karena itu ahli radioterapi harus selalu ada dalam tiap kelompok kerja onkologi. Dipersilakan juga membaca bab ''Prinsip-prinsip radioterapi.
Kanker dan paliasi (Prof. Dr. A. Zwaveling)

Kanker dan paliasi (Prof. Dr. A. Zwaveling)

Kanker dan paliasi (Prof. Dr. A. Zwaveling) - Berbeda dengan terapi kuratif, pada perawatan paliatif tidak lagi diusahakan penyembuhan. Di sini proses penyakit telah demikian lanjut, sehingga kita harus sudah puas dengan hasil yang sedikit. Kita tidak lagi berusaha memperpanjang usia dengan mengorbankan segala-galanya, melainkan berusaha mempertahankan kualitas sisa hidup pada tingkat seoptimal mungkin.

Tujuan yang terbatas ini tidak kalah penting dibanding usaha kuratif, baik untuk penderita maupun dokternya. Oleh karena itu hendaknya perawatan paliatif juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Secara garis besar, ada 3 bentuk perawatan paliatif :

1. Terapi bedah.
2. Radioterapi.
3. Terapi obat-obatan, yang meliputi :

  • Khemoterapi
  • Terapi hormonal.
  • Terapi analgetika.
  • Terapi suportif.

Karena banyaknya kemungkinan yang tiap saat perlu dipertimbangkan maka dalam penggarapannya perlu konsultasi yang intensif dari berbagai bidang spesialisasi dalam suatu team. Dalam team ini perlu diikut-sertakan pula dokter pribadi, rokhaniawan, perawat dan pekerja sosial.

Konsultasi demikian itu sebaiknya dilaksanakan dalam suatu pertemuan kelompok kerja kanker yang dilangsungkan pada waktu-waktu tertentu untuk menentukan garis besar perawatan penderita kanker secara individual.

Bab ini tidak akan membicarakan aspek-aspek perawatan spikologi, meskipun aspek tersebut harus selalu diperhatikan pada pendekatan klinik. Hal ini akan dibicarakan pada bab tersendiri. Perlu juga ditambahkan bahwa hanya garis-garis besar saja yang diuraikan, guna memberi gambaran apa yang masih dapat dilakukan untuk penderita ini.

Paliasi bedah.

Beberapa aspek paliasi bedah telah diuraikan dalam prinsip-prinsip bedah dan follow up. Untuk jelasnya di sini akan disampaikan suatu ikhtisar singkat mengenai kemungkinan-kemungkinan paliasi bedah. Kanker jaringan lunak dengan metastasis yang menimbulkan keluhan atau mungkin menimbulkan ulkus dapat diekstirpasi, jika belum terlalu luas. Kadang-kadang ada baiknya dilakukan amputasi.

Pada karsinoma mammae elektrokoagulasi atau bedah krio. Setiap tindakan harus diusahakan seminimal mungkin dan sungguh-sungguh menguntungkan penderita. Kanker saluran makanan umumnya cocok untuk terapi bedah paliatif.

Juga pada tumor-tumor yang telah mengadakan metastasis, tumor primer tetap perlu diangkat guna melindungi penderita dari ulkus ataupun perdarahan. Yang kadang-kadang menimbulkan obstruksi saluran pencernaan terutama tumor lambung dan usus perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk tumor esofagus, saluran empedu dan rektum, besarnya tindakan biasanya tidak sebanding dengan paliasi yang diharapkan. Kalau secara teknis tidak mungkin dilakukan reksesi, harus diusahakan dibuat ''bypass''.

Tumornya tetap in situ, tetapi jalan saluran makanan diperbaiki, hingga dihindari atau dicegah terjadinya penutupan. Jika ''bypass''-pun sudah tidak mungkin dilakukan, pada tumor-tumor kolon bisa dilakukan anus preternaturalis di atas tumor tersebut.

Harus selalu dicegah setiap kemungkinan terjadi ileus karena ini berarti penderitaan yang berat untuk pasiennya. Obstruksi esofagus dan kardia bisa diatasi dengan memasukkan pipa melalui masa tumor tersebut, sehingga penderita dapat menggunakan makanan cair dan terus menelan ludah.

Jika obstruksi saluran makanan bagian atas total, maka dapat dibuat fistula makanan, walaupun dari segi paliatif tindakan ini tidak memuaskan. Dalam hal ini jika masih mungkin lebih disukai suatu ''bypass''. Tumor rektum yang letaknya rendah kadang-kadang dapat diterapi baik dengan elektrokoagulasi atau bedah krio, sehingga fungsi dan kontinuitasnya dapat tetap dipertahankan.

Tumor-tumor saluran empedu atau pankreas yang menimbulkan ikterus bendungan, sedapat mungkin diterapi paliatif dengan membuat aliran baru empedu ke usus. Kalau ini tidak mungkin bisa diusahakan mengalirkan empedu ke luar. Ini juga merupakan paliasi yang baik walaupun hanya untuk menghilangkan rasa gatal.

Kanker saluran kencing kadang-kadang dapat diterapi paliatif dengan baik secara bedah. Karsinoma ginjal, jika mungkin, perlu diangkat tumor primernya. Jika terjadi obstruksi diusahakan pemindahan aliran urinnya. Namun harus selalu dipertimbangkan kembali apakah tindakan ini betul-betul paliatif atau sekedar memperpanjang penderitaan belaka.

Karsinoma tiroid kadang-kadang tumbuh lambat (bentuk papiler) meskipun sudah terjadi metastasis sehingga bedah paliatif hampir mempunyai efek yang menyerupai bedah kuratif. Jika mungkin harus dilakukan strumektomi total, agar metastasis (kalau ada) mudah diterapi dengan zat radioterapi. Jika ada penyempitan trakhea, harus dibuat trakheostoma. Untuk radioterapi yang efektif ''bulk reduction'' dapat berguna.

Metastasis yang menimbulkan keluhan berat kadang-kadang dapat diangkat. Tindakan bedah terhadap metastasis soliter di kulit, paru, hati, atau tulang, kadang-kadang memberi penyembuhan definitif. Metastasis pada tulang dapat menimbulkan fraktura patologik.

Untuk mengatasi ini bisa diadakan fiksasi (profilaktik) pada bagian tulang yang bersangkutan dengan menggunakan bahan osteosintesis. Cara ini selain mengurangi keluhan dan mempermudah perawatan juga kerapkali bisa mempertahankan mobilitas penderita.

Bedah ablatif organ hormonal bertujuan mengangkat kelenjar hormon yang bisa memberi pengaruh terhadap pertumbuhan tumor yang telah menyebar. Pada karsinoma payu*dara tindakan ini dapat terdiri atas kastrasi dan kalau perlu dilanjutkan dengan adrenalektomi atau hipofisektomi. Untuk karsinoma prostat dikerjakan kastrasi dan kalau perlu hipofisektomi.

Tindakan-tindakan bedah syaraf kadang-kadang perlu dilakukan pada lesi lintang yang membakat dan untuk memutus lintasan syarat penghantar nyeri baikperifer maupun agak sentral. Tak jarang tindakan begini memberi hasil memuaskan.
Tumor-tumor di tempat lain yang tidak dapat disembuhkan tidak akan diterangkan lebih lanjut. Namun pada setiap keadaan harus selalu dipertimbangkan sampai dimana tindakan bedah baik dengan ataupun tanpa kombinasi redioterapi atau khemoterapi dapat menguntungkan penderita.


Penderita kanker dalam keluarga (Dr. C.A. de Geus), Neoplasi

Penderita kanker dalam keluarga (Dr. C.A. de Geus), Neoplasi

Penderita kanker dalam keluarga (Dr. C.A. de Geus) Neoplasi - Bilamana pemeriksaan menunjukkan bahwa yang dihadapi adalah kanker, maka hal ini biasanya membawa kegoyahan dan keterkejutan pada penderita, pada keluarga dan pada lingkungan sekitarnya. Memang kanker adalah penyakit yang ditakuti.

Pengorbanan-pengorbanan yang besar harus direlakan untuk menyembuhkan radikal dan dalam keadaan-keadaan yang menguntungkan orang menjalani kontrol yang bertahun-tahun atas kemungkinan metastasis residif.

Dalam hal yang tidak menguntungkan maka dihadapilah suatu penyakit yang progresif dan menahun dengan prognosis yang infaust. Kasus-kasus yang demikian ini minta dari dokter keluarga keikutsertaan secara pribadi dengan pengetahuan yang matang, tetapi juga dengan pengertian pengaruh penyakit ini pada manusia seluruhnya. Secara singkat akan diterangkan apakah artinya ini.

Meskipun terdapat banyak perbedaan dalam gambaran-gambaran penyakit dan jalannya penyakit-penyakit tetapi semua kanker memiliki tiga sifat bersama. Bentuk manifestasinya adalah neoplasi, kelakuannya adalah otonom dan sifatnya adalah ganas.

Neoplasi adalah gambaran penyakitnya menampakkan diri : pertumbuhan tumor. Terapi ditujukan melawan pertumbuhan ini meskipun kadang-kadang dengan akibat mutilasi yang berat. Tetapi tidak ada pilihan lagi. Neoplasi diikuti terapi yang agresif dalam organisme menimbulkan deformitas-deformitas sampai bentuk-bentuk yang mengerikan. Ingat saja akan tumor-tumor, ulsera, ablatio dan alopesia.

Otonomi pengaruhnya di dalam organisme mengganggu ketertiban, menghilangkan keteraturan. Disfungsi merupakan sebab sakitnya. Juga di situlah dokter mengambil tindakan untuk melawannya. Tetapi effek total dari pengaruh-pengaruh yang menganggu keteraturan dan pengaruh-pengaruh yang dimaksudkan memperbaiki, ialah bahwa tubuh bersikap lain, bertindak aneh, tubuh sudah tidak benar lagi pekerjaannya dan tidak dapat dipercanyai. Tubuh menjadi corpus alienum, benda yang asing untuk manusianya.

Malignitas memanifestasikan diri dalam sifat menghantam dan sekaligus mengancamnya kanker ini. Penyakitnya tidak bisa dipercaya, mulai dengan tidak dirasakan dan tidak diketahui, sifatnya progresif khronik, perjalanan yang menahun, terus merusak, suatu pengalaman yang melelahkan. Suatu penyakit yang bersikap sedemikian tidak teraturnya adalah maligna.

Neoplasi, otonomi, malignitas; deformitas, pengasingan, ketidakteraturan. Apa yang ditimbulkan pada seorang manusia oleh ini, harus mendapat perhatian. Ada perasaan malu oleh suatu penyakit yang merusak penampilan yang merusak kemulusan, ketegapan, sifat wanita.

Saya merasa diri saya tidak menyenangkan dan saya merasa diri saya kotor, adalah ucapan-ucapan penderita yang otentik. Ada perasaan berdosa perasaan kekurangan, perasaan tidak berguna, perasaan menderita, tetapi juga perasaan harus membikin pertanggungan jawab terakhir pada suatu penyakit yang merongrong demikian itu.

Kerapkali hati nurani berbicara dengan keras. Kadang-kadang penderita menyatakan diti tidak salah: Mengapa dia harus begitu dan untunglah saya tidak pernah merugikan orang lain. Ada juga perasaan-perasaan takur, takut terhadap nyeri, takut kalau dokternya tidak ada, takut terhadap siang, takut terhadap malam, takut terhadap mimpi, takut terhadap kenyataan.

Orang takut keputusan-keputusan nasib, sesudah organisme baik yang mekanis maupun yang mengenai panca-indra bersama-sama menjadi sakit. Bisa terjadi bahwa orang yang biasanya tidak sembahyang mulai mencaci.

Penderita-penderita menyatakan yang dialami pribadinya secara terselubung, diselimuti atau secara lugas dan blak-blakan. Ini bukan hanya dapat dilihat, melainkan juga dapat diramalkan. Selama masa pergulatan, dengan hal-hal tersebut diatas sebagai manifestasinya, dilahirkanlah saat ''kenyataan'' menjadi milik bersama. Fase-fase yang dibeda-bedakan Kubler-Ross (1970) dalam perlangsungan penyakit maligna dan yang digambarkan dalam bukunya ''Lessen voor Levenden'', tidak lain daripada cara-cara bergaul, kadang-kadang bercanda, dengan kenyataan :

  • Pengingkaran (tidak mungkin benar, jadi tidak benar).
  • Kemarahan (saya tidak mau bahwa itu benar, saya menolak untuk percaya).
  • Tawar-menawar (meskipun benar, saya masih ada).
  • Depresi (sungguh beratlah untuk dipikul).
  • Penerimaan (memang benar, saya telah mengetahui sebelumnya).

Fase-fase ini seakan-akan yang satu mengikuti yang lain secara logik dan kronologik, tetapi dalam kenyataannya yang satu masuk ke dalam yang lain secara menyilang, yang satu merupakan tekanan dari yang lain.

Dokter keluarga harus waspada, bahwa di dalam suatu keluarga sering terdapat divergensi yang jelas dalam tingkat anggota-anggota keluarga menerima dan mengolah problemnya. Dalam hubungan satu sama lain sikap anggota yang satu mempengaruhi sikap yang lainnya.

Pengingkaran dari yang satu merangsang kemarahan yang lain; kalau yang satu datang pada penerimaan, ini dapat menimbulkan depresi pada yang lain atau merangsang pengingkaran. Kadang-kadang sampai jatuh kata-kata yang kasar dan kadang-kadang ada suatu macam perawatan yang semena-mena.

Ada kalanya anggota keluarga yang sehat bahkan lebih memerlukan perhatian dokter keluarga daripada penderitanya sendiri. Kadang-kadang mereka harus juga secara berhati-hati dibawa kembali kepada si sakit, kalau penyakitnya berlangsung terlalu lama dan kehidupan anggota keluarga itu menuntut kembali hak-haknya.

Seorang penderita kanker gampang menjadi terasing. Ia sibuk dengan dirinya sendiri,dan diserahkan kepada nasibnya sendiri karena orang terlalu berhati-hati bergaul dengan dirinya. Kadang-kadang anggota keluarga menanyakan kepada dokter waktu mengantar dokter keluar dari kamar penderita, apa pendapat dokter mengenai penderita.

Pembicaraan semacam itu di luar kamar mengenai penderita dapat menyinggung perasaan penderita dan kadang-kadang mengharuskan dokter kembali kepada penderita untuk menjelaskan kepada penderita mengenai apa yang telah dibicarakan tadi.

Yang terpenting adalah bahwa dokter keluarga dapat sebanyak mungkin berbicara dengan penderita mengenai kenang-kenangannya dan apa yang pada waktu itu menjadi pikirannya. Dengan ini dibantulah seseorang untuk mencapai suatu pembulatan dan diciptakanlah suatu pengertian bersama, hingga juga tanpa kata orang saling dapat mengerti satu sama lain, jikalau nanti cara komunikasi verbal telah tertutup. Keluarga yang ditinggalkan bukan hanya segera sesudah penderita meninggal tetapi juga masih beberapa waktu kemudian, harus masih ditemui.
Pengiriman referral (waijkverpleegkundige)

Pengiriman referral (waijkverpleegkundige)

Pengiriman referral (waijkverpleegkundige) - Pada kelainan-kelainan maligna prosentasi pengiriman kespesialis-spesialis mendekati 100%. Dokter keluarga yang di dalam surat pengantar menyatakan dugaan suatu neoplasma harus memberi keterangan apa yang telah dibicarakan dengan penderita dan keterangan mengenai adanya penyakit lain dan terapinya.

Sebaiknya dokter keluarga berhati-hati dengan pemberitaan kepada penderita mengenai tindakan-tindakan spesialistik yang bisa diharapkan. Dengan ini spesialis tidak berada dalam suatu posisi yang sukar, kalau misalnya harus menjalankan tindakan lain daripada yang telah dikatakan oleh dokter keluarga dan harus menerangkan kepada penderitanya.

Terdapat alasan untuk menyimpang dari pola korespondensi yang biasa yang terdiri atas surat pengantar dan surat jawaban diikuti oleh suatu pemberian informasi specialistik yang banyak. Spesialisnya ingin mengetahui bagaimana pendapat-pendapatnya itu sampai kepada dokter keluarga dan akan mendapat keuntungan dari reaksi-reaksi dari dokter keluarga.

Tambahan pekerjaan untuk memberi laporan tertulis di antara waktu-waktu itu kepada spesialis akan mempunyai effek yang baik untuk kerjasama dokter keluarga dengan spesialis. Siapa yang ingin menjadi partner dalam suatu pembicaraan harus menunjukkan, bahwa ia juga ikut serta dalam konsultasi itu.

Kalau dokter keluarga menemukan suatu tumor maligna, maka ia harus dapat mempertimbangkan apakah ia akan mengirim penderita kesalahan satu rumah-sakit daerah atau kepada suatu pusat onkologi. Dalam tingkat bawah perlu suatu hubungan dengan perawatan rumah (waijkverpleegkundige).

Adalah merupakan beban hubungan yang berat bagi ''waijkverpleegkundige'' maupun untuk penderita, kalau permintaan pertolongan ini baru dimintakan dalam fase akhir dari penyakitnya. Dokter keluarga harus berusaha mengintroduksi ''waijkverpleegkundige'' ini lebih dulu.

Adalah penting bahwa ia mengetahui kemungkinan-kemungkinan dengan mempelajari bab yang ditulis dalam buku ini oleh perawat rumah (waijkverpleegkundige) untuk pemberantasan kanker. Dengan itu ia dapat mengubah pikiran anggota keluarga yang mungkin ingin menangani sendiri perawatan sampai akhir atas dasar informasi yang konkrit, dan dalam fase pemindahan pertolongan kepada perawat rumah ia dapat memberi instruksi-instruksi yang berharga kepada keluarga sendiri.

Pengobatan-pengobatan rahasia yang menyembuhkan kanker tidak ada dan mereka yang memuji atau menganjurkan ini biasanya adalah mereka yang merasa tidak diakui dan dihargai. Tetapi kalau meskipun begitu seorang penderita ingin pergi ke dukun (kwakzalver), maka dia bebas dalam hal ini.

Meskipun begitu suatu sikap ''laisser faire'' dalam hal ini adalah tidak betul. Lepas dari resiko bahwa dengan ini tindakan-tindakan medis yang perlu diabaikan ini juga menghilangkan persiapan dan pematangan jiwa yang diperlukan sebelum meninggal, kalau fikiran masih terikat di dalam fatamorgana kesembuhan.